Yohanes 14:15-24
Ulangan 11:1. “Haruslah engkau mengasihi TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia kewajibanmu terhadap Dia dengan senantiasa berpegang pada segala ketetapan-Nya, peraturan-Nya dan perintah-Nya.”
Di awal masa pacaran dengan orang yang akhirnya menjadi suami saya, hati berdebar-debar setiap kami berkencan. Jangankan untuk berpegangan tangan, saat menunggu dijemput pun, perasaan sudah tidak karuan. Rasanya setiap orang pun pasti pernah melewati tahap ini. Lambat laun, kita semua akan melewati tahap kasmaran ini dan berujung pada periode cinta sejati, penuh komitmen dan tanggung jawab. Cinta yang sejati tidak dapat dilandaskan pada perasaan atau emosi, tapi didasari oleh tindakan kasih dan kerelaan untuk berkorban. Ini yang membuat suatu pernikahan tetap bertahan dan berhasil.
Jika kita mencintai seseorang, ada “harga” yang harus dibayar. Suami saya tahu, bahwa saya mencintainya karena adanya makanan hangat di atas meja saat dia pulang kantor. Karena pakaian bersih yang selalu tersedia di lemarinya, karena saya membantunya dalam pekerjaan, karena saya menghormati ayah dan ibunya, dst… Saya tahu suami saya mencintai saya karena dia membiarkan saya bangun lebih siang di hari Minggu, mau membantu memandikan anak-anak, mengijinkan pergi makan siang bersama sahabat-sahabat saya tanpa membawa anak-anak, dst…. Cinta itu harus bisa dilihat dan dirasakan. Perkataan belaka tanpa tindakan adalah omong kosong. Karena itulah Tuhan berkata, bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati.
Dulu saya berpikir, bahwa mencintai Tuhan juga diukur dari tingkat bergairahnya perasaan setiap kali mengikuti ibadah, intensitas kehadiran di gereja dalam setiap minggunya, dan sebaliknya saat perasaan saya sedang “berada di bawah”, itu artinya saya sedang tidak mencintai Tuhan. Memang baik, perasaan menggebu-gebu ketika dalam suatu situasi doa atau dalam ibadah, tetapi mencintai Tuhan tidak boleh hanya didasarkan pada perasaan semata.
Jika kita mencintai Tuhan, kita harus menunjukkannya melalui perbuatan kita, pengorbanan waktu, pengorbanan harta, pengorbanan tenaga dan kemampuan kita. Jika mencintai Tuhan, kita akan belajar untuk taat pada perintah-Nya. (NK).
Doa: “Kami mengasihi-Mu Tuhan karenanya kami akan taat akan semua perintah dan rencana-Mu bagi kami. Di dalam nama Tuhan Yesus. Amin.”
GBI Pasir Koja 39 Bandung
