
Anda mungkin sering mendengar kata Ibrani Todah, yang artinya terima kasih. Mengucapkan terima kasih dapat mengekspresikan rasa syukur, kerendahan hati dan pengertian tulus. Seorang penulis terkenal, Fred D. Van Amburgh, menyatakan: Tidak ada yang lebih miskin daripada orang yang tidak memiliki rasa syukur dengan ucapan terima kasih. Jadi, budaya terima kasih (Luk. 17:11-19) merupakan modal utama yang keluar dari mulut orang yang memiliki karakter Kristus karena hal itu memancarkan ekspresi hati yang bersyukur atas anugerah Tuhan.
Seorang Kristen seharusnya membangun karakternya berdasarkan keinginan Tuhan. Karakter yang dibangun secara rohani akan tumbuh secara rohani. Karakter seorang manusia dipengaruhi oleh lingkungannya. Anak yang dibangun dalam lingkungan Kristen, maka akan tumbuh dengan karakter rohani sesuai dengan firman Tuhan. Karakter Kristen seperti tercermin dalam kitab Yeremia 7:1-11, memiliki kecenderungan adanya unsur kasih yang utama dan bersifat universal. Ini terkait dengan pendidikan dan karakter dari pengetahuan yang dimiliki seseorang. Logika yang positif menghasilkan moral yang positif dan logika yang negatif menghasilkan moral yang negatif juga.
Dalam kehidupan sehari-hari seorang dengan karakter Kristen yang alkitabiah tetap dapat menemukan kesulitan-kesulitan yang sangat kompleks, khususnya memiliki kekurangan secara keuangan, salah satu jalan pintas yang sering ditempuh adalah berhutang. Paulus melalui metafora hutang di Roma 13:8 ayat ini menyatakan adalah kewajiban orang yang mempunyai hutang untuk melunasinya (seperti seorang janda yang ditinggal mati oleh suaminya, dia tetap wajib melunasi hutang itu (2 Raj. 4:1-7). Setiap hutang menuntut pertanggungjawaban, membayarkan apa yang orang lain pantas dapatkan, baik itu pajak, cukai, rasa takut maupun rasa hormat. Nah, salah satu yang kita harus bayar adalah kasih kepada sesama. Kita perlu berhati-hati untuk tidak memasukkan “keterpaksaan” ke dalam metafora hutang ini. Bagi orang yang bertanggung-jawab dan bermartabat, membayar hutang bukanlah sebuah beban atau keterpaksaan. Karena membayar hutang adalah sebuah kebanggaan dan kelegaan roh yang wajib bagi orang Kristen yang bertanggung jawab.
Kewajiban lain orang Kristen adalah untuk mengelola bumi dan memanfaatkan sumber daya alam secara bertanggung jawab (Kej. 1:26-30). Kita perlu memikirkan tidak hanya kepentingan sesaat saja, tetapi juga berpikir ke depan, untuk anak-anak serta generasi yang akan datang supaya mereka tidak hidup di tengah-tengah dunia yang rusak akibat polutan-polutan yang telah kita tinggalkan serta sumber daya yang telah kita habiskan. Oleh karena itu, jadilah orang Kristen yang mencintai lingkungan.
Umat Kristen perlu meningkatkan secara konsisten nilai-nilai etika Kristen ini: meningkatkan budaya terima kasih, kehidupan yang bermartabat dengan mampu mengontrol emosi, bangga bisa melunasi hutang karena berkarakter Kristus, dan memelihara keseimbangan kelestarian alam untuk kemuliaan Tuhan kita Yesus Kristus.
GBI Pasir Koja 39 Bandung