Kisah Para Rasul 2:46-47
Kisah Para Rasul 2:46b-47a. “Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah.”
Sesuatu terjadi ketika kita menyembah dan memuji Tuhan. Kis. 2:46b-47a menuliskan, “Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah.”
Frase “gembira dan tulus hati” dalam bahasa artinya berarti: Dengan sukacita yang tak terpengaruh keadaan. Ada sukacita di sana. Ada semangat. Dan ada juga pemujaan kepada Allah. Beberapa ayat sebelumnya kita membaca, bahwa takut dan gentar memenuhi penduduk kota, karena para Rasul melakukan banyak mujizat dan tanda (ayat 43). Dalam penyembahan yang sejati harus ada sukacita, namun juga kegentaran. Gereja yang dipenuhi Roh akan menjadi gereja yang menyembah, dan orang Kristen yang dipenuhi Roh akan menjadi orang Kristen yang menyembah.
Mungkin ada di antara kita yang berkata, “Wah, saya sedang tidak mood menyembah.” Apakah Anda pikir para orang percaya dalam Kisah Rasul selalu dalam mood yang baik untuk memuji Tuhan? Mereka disesah, dipukuli dan disiksa, mereka diolok-olok karena iman mereka kepada Allah. Orang-orang Kristen ini sedang menghadapi penganiayaan parah, namun sesuatu yang luar biasa terjadi ketika mereka menyembah Allah.
Alkitab tidak pernah berkata, “Pujilah dan sembahlah Tuhan ketika Anda sedang mood.” Sebaliknya, Alkitab berkata “Bersyukurlah kepada Allah, sebab Ia baik!” (1 Taw. 16:34). Inilah rahasia yang membuat Ayub mampu menyembah setelah musibah luar biasa yang ia alami (lihat Ayub 1:20).
Kadang penyembahan berarti pengorbanan. Namun, tetaplah menyembah!
Doa: “Ya Tuhan Allah yang Maha Besar. Kami mau terus memuji dan menyembah-Mu dalam keadaan apa pun. Kami tahu, bahwa di atas pujian dan penyembahan ada kuasa-Mu yang luar biasa akan Engkau nyatakan. Amin.”
GBI Pasir Koja 39 Bandung
