
RUMAH TUHAN
Yesaya 2:1-5
Mazmur 122:1. “Nyanyian ziarah Daud. Aku bersukacita, ketika dikatakan orang kepadaku: “Mari kita pergi ke rumah TUHAN.”
Bait Allah adalah sebutan untuk menunjukkan tempat kediaman Allah di bumi. Ke sanalah seharusnya hati dan pikiran umat tertuju. Yesaya mengatakan, bahwa Allah akan membangun bait-Nya pada hari-hari terakhir. Bait itu akan berdiri tegak menjulang dan kekuatan-Nya akan menarik perhatian bangsa-bangsa untuk berduyun-duyun datang. Dari sanalah akan timbul pengajaran yang benar dan kepemimpinan yang adil.
Keberadaan bait Allah bagi umat Israel di Yehuda sangat penting. Ke sanalah umat Allah berziarah untuk merayakan berbagai ibadah dan perayaan. Sekalipun disebut rumah Allah, tetapi tidak senantiasa bait Allah berisi hal-hal yang memuliakan Allah. Kerap kali terjadi ketidakadilan dan ketidakbenaran dalam bait Allah. Kita dapat membandingkan dengan kisah Yesus yang memorak-porandakan para pedagang bait Allah.
Yesaya mengingatkan umat Allah bahwa pada hari-hari terakhir, Allah sendiri yang akan mendirikan bait Allah. Dalam pemerintahan-Nya, bait Allah akan menjadi pusat pengajaran yang benar. Umat yang beribadah akan menjadi para pejuang yang siap menegakkan keadilan dan kebenaran. Keadilan dan kebenaran yang berdiri tegak akan berdampak pada hadirnya kedamaian, yang ditandai tidak adanya perang lagi. Itulah hakikat yang sesungguhnya dari rumah Tuhan. Artinya, bukan sekadar tempat umat beribadah, melainkan tempat di mana keadilan dan kebenaran dihidupi.
Allah tidak dapat dipenjara di rumah buatan manusia. Kehadiran Allah tidak ditandai dengan bangunan yang indah. Sebaliknya ditandai dengan hadirnya kehidupan di mana pengajaran yang benar terus-menerus disampaikan. Pengajaran yang benar senantiasa memperjuangkan keadilan dan kebenaran yang membawa kedamaian dalam kehidupan.
Doa: “Bapa di dalam Yesus, aku mau menikmati bait-Mu yang kudus. Menyembah dan melakukan kebenaran. Amin.”
GBI Pasir Koja 39 Bandung