
PERJANJIAN DENGAN ALLAH
Mazmur 128:1-6
Mazmur 128:1. “Nyanyian ziarah. Berbahagialah setiap orang yang takut akan TUHAN, yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya!”
Pernikahan di dalam kekristenan dibangun atas dasar firman Tuhan. Di dalam Alkitab, Allah telah menuliskan semua yang harus kita ketahui dan lakukan untuk menjalani kehidupan berumahtangga.
“Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya.” Ef. 5:25. Bagaimana Kristus menyatakan kasih-Nya bagi kita? Dengan mati di atas kayu salib bagi Anda dan saya. Seorang suami harus mematikan dagingnya dan memberikan nyawa bagi keluarganya. Wajib baginya untuk memberikan yang terbaik dari dirinya bagi istri dan anak-anaknya.
Kepada seorang istri, Allah memerintahkan untuk tunduk kepada suami dalam segala keadaan. Bahkan, Petrus berkata, bahwa kita harus memperlakukan suami seperti tuan (1 Pet. 3:6).
Hal tersebut akan lebih mudah dilakukan jika pasangan kita adalah seorang suami atau istri yang baik, penuh kasih dan takut akan Allah. Tetapi menjadi sebuah pergumulan berat ketika pasangan berlaku sebaliknya. Di sinilah kita harus meminta anugerah Allah, supaya mampu melakukannya.
Ketika mengucapkan janji nikah, kita harus mengerti, bahwa kita membuat komitmen kepada Allah bukan kepada pasangan kita. Ketika kita berjanji akan mengasihi, menghormati, tunduk, merawat dan setia kepada pasangan dalam segala keadaan sampai kematian memisahkan, sesungguhnya kita sedang berjanji kepada Allah.
Kita melakukan perintah-Nya bukan karena perasaan cinta kita kepada pasangan, tetapi karena kita mencintai Allah. Pasangan kita pasti mengecewakan, tetapi Allah tidak akan pernah mengecewakan kita. Ia menjanjikan berkat bagi mereka yang hidup takut akan Dia. Dan Ia yang menjanjikannya, setia!
Doa: “Bapa, beri kami kasih anugerah-Mu, supaya mampu terus memegang janji nikah kami di hadapan-Mu sampai maut memisahkan. Dalam nama Tuhan Yesus. Amin.”
GBI Pasir Koja 39 Bandung