Bahan Care Cell Juni 2019

KELUARGA

Pertemuan 1

Roh Kudus Mentoring Keluarga Orang Percaya

(Luk. 10:21-22)

Pendahuluan

Mentoring adalah proses berbagi pengalaman dan pengetahuan dari seorang yang sudah berpengalaman kepada seseorang yang ingin belajar di bidang tersebut. Sehingga akhirnya bisa mempercepat proses belajar dan menghindari Anda membuat kesalahan-kesalahan yang biasa terjadi.

Contoh:

            Anda ingin membuka usaha bakso namun sama sekali tidak memiliki pengetahuan dan pengalaman di bidang ini. Lalu Anda minta dibimbing oleh seorang pengusaha bakso sukses yang memiliki cabang di mana-mana. Nah orang yang membimbing Anda tersebut disebut mentor dan Anda adalah orang yang dimentoring.

Orang tersebut akan berbagi kiat-kiat dan tips sukses berbisnis bakso. Dengan tips-tips yang dia berikan maka Anda bisa terhindar dari kesalahan yang biasa dilakukan orang dan peluang sukses Anda di bisnis bakso juga akan semakin besar.

Isi

            Demikian juga peran Roh Kudus sebagai mentor bagi keluarga kita. Sebagai mentor Ia akan memberikan tips-tips bagaimana keluarga kita bisa berhasil dan terhindar dari kesalahan-kesalahan. Roh Kudus mementoring keluarga orang percaya dengan berbagai cara:

  1. Mengubah setiap anggota keluarga menjadi serupa dengan Kristus

Ini membuat setiap anggota keluarga mempunyai sifat-sifat: mengasihi, lemah lembut, murah hati, mengampuni dan melupakan kesalahan, panjang sabar dan semua buah Roh yang lainnya. Jika sifat-sifat ini ada di dalam setiap anggota keluarga, maka keluarga tersebut pasti berbahagia.

  • Memberikan arahan melalui firman Tuhan

Karena itu setiap anggota keluarga wajib mempelajari firman Tuhan setiap hari.

  • Memberikan para pemimpin rohani

Roh Kudus juga mengaruniakan para pemimpin rohani baik untuk mengajarkan firman Tuhan, menasihati maupun memberikan teladan kepada keluarga-keluarga orang percaya.

Pertanyaan dan Penerapan

  1. Sudahkah Anda/keluarga Anda mempunyai pembimbing rohani? Jika belum mintalah pemimpin cell Anda untuk menjadi pembimbing rohani Anda/keluarga Anda!
  2. Usahakanlah agar setiap anggota keluarga Anda mempelajari firman Tuhan setiap hari!

Pertemuan 2

Keluarga yang Dipimpin oleh Roh Kudus

(Roma 8:12-17)

Pendahuluan

            Setiap keluarga Kristen harus hidup dipimpin Roh Kudus setiap hari. Hanya dengan hidup dipimpin Roh Kudus saja maka keluarga Kristen mengalami kedamaian, kebahagiaan, kelimpahan dan keberhasilan.

Isi

Jika Roh Kudus memimpin keluarga Kristen, maka:

  1. Pimpinan Roh Kudus akan membuat keluarga kita berbeda

Akan terlihat nyata perbedaan antara keluarga yang dipimpin Roh Kudus dengan keluarga yang tidak dipimpin Roh Kudus. Keluarga yang dipimpin Roh Kudus pasti selalu mengutamakan kehendak Tuhan. Gerak-gerik kehidupan mereka selalu berorientasi pada tujuan Tuhan.

Contoh:

  • Anak yang mau melanjutkan sekolah. Orang dunia akan berpikir jurusan apa yang paling memungkinkan untuk kelak bisa mencari uang sebanyak-banyaknya. Tetapi, keluarga yang dipimpin Roh Kudus akan mencari pimpinan Tuhan tentang jurusan apa yang harus dipilih dan sekolah di mana.
  • Pimpinan Roh Kudus akan membuat keluarga kita menjadi saksi Kristus yang menjawab kebutuhan orang lain.

Contoh:

  • Simon Petrus menjawab kebutuhan orang lumpuh.

Karena dipimpin Roh Kuduslah maka Petrus pergi ke Bait Allah dan menyembuhkan orang yang sudah lumpuh selama 40 tahun. Orang lumpuh tersebut berpikir bahwa kebutuhannya adalah mendapatkan sedekah. Tetapi oleh pimpinan Roh Kudus, maka Petrus mampu melihat kebutuhan yang lebih dalam dari orang lumpuh tersebut, yaitu kesembuhan fisik dan kesembuhan rohani. Itu sebabnya Petrus berkata: “emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai kuberikan kepadamu.” Yang dipunyai Petrus adalah kuasa untuk menjawab kebutuhan utama orang lumpuh tersebut yaitu kuasa untuk menyembuhkan hidupnya secara utuh.

Pertanyaan dan Penerapan

  1. Sebutkanlah 2 tanda lain, dari sebuah keluarga yang hidup dipimpin Roh Kudus! Diskusikanlah!
  2. Dapatkah orang mencapai sukses besar dalam segala aspek kehidupan keluarganya jika tidak dipimpin Roh Kudus! Diskusikanlah!

Pertemuan 3

Keluarga Orang Benar Investasi Allah

(Ams. 20:7; Mzm. 37:25-26)

Pendahuluan

            Keluarga diciptakan Allah untuk tujuan yang sangat besar, yaitu: menaklukkan dunia, mencapai hal-hal yang besar dan membangkitkan keturunan-keturunan Ilahi (Kej. 1:26-28).  Karena itu, setiap keluarga harus mempunyai keinginan untuk mencapai hal-hal yang besar, dan hal itu mungkin karena mereka mencapainya bersama Tuhan.

Isi

            Berdasarkan pengalaman keluarga-keluarga Israel, maka keluarga-keluarga dapat dibagi ke dalam beberapa kelompok:

  1. Tipe keluarga Israel yang dipimpin Musa

Keluarga-keluarga Israel yang dipimpin Musa adalah keluarga-keluarga yang tidak mau dibawa maju. Tidak punya keinginan untuk mencapai hal-hal besar dalam hidup ini. Hati dan kaki mereka terlalu berat untuk melangkah karena sarat dengan dosa dan kepentingan Mesir (dunia). Keluarga seperti ini tidak akan pernah mencapai tanah Kanaan (tujuan Allah) dalam hidup mereka. Keluarga-keluarga seperti ini menjadi beban dalam gereja dan masyarakat.

  • Tipe dua setengah suku (Bil 32:1-2, 5, 19).

Tipe keluarga seperti ini mau maju. Hanya mereka membatasi kemajuan mereka sampai pada satu titik saja, lalu merasa cukup puas kemudian berhenti melangkah. Suku Ruben termasuk di dalam kategori ini. Mereka cukup puas berada di seberang sungai Yordan.

Tahukah Anda, bahwa tanah Kanaan yang dijanjikan Allah adalah dari Dan sampai Bersyeba, yakni seluas 483.000 KM. Pada waktu mereka dipimpin Yosua, mereka telah berhasil menduduki 48.300 KM dan mereka langsung puas, padahal mereka baru saja mencapai 10% dari visi Allah dalam hidup mereka.

  • Tipe Kaleb

Kaleb tidak cepat merasa puas, sampai pada masa tua ia tetap memiliki keingingan yang berkobar-kobar untuk meraih semua yang Tuhan janjikan. Akhirnya Kaleb mendapat seluruh warisannya termasuk Hebron dan memberikan warisan itu kepada anak cucunya sehingga anak cucunya mengalami kelimpahan. Itulah janji Tuhan pada orang benar yang mencapai tujuan-tujuan Allah dalam hidupnya. Anak cucu mereka tidak akan meminta-minta roti (Mzm. 37:25-26).

Pertanyaan dan Penerapan

  1. Menurut pendapat Anda, termasuk tipe yang manakah keluarga Anda? Terbukalah dan diskusikanah dengan teman-teman cell yang lain!
  2. Menurut Anda, apakah yang harus kita lakukan untuk menjadi keluarga yang mencapai hal-hal besar seperti keluarga Kaleb? Diskusikanlah!

Pertemuan 4

Gereja sebagai Keluarga Allah

(Ef. 2:19)

Pendahuluan

Gereja adalah keluarga Allah. Maka hubungan pemimpin dengan anggotanya harus dibangun juga sebagai hubungan orang tua dan anak. Dan hubungan para anggotanya harus dibangun sebagai hubungan sesama anggota keluarga Kerajaan Allah. Contoh:

  1. Paulus
  2. Ia menempatkan diri sebagai bapa rohani dan jemaat yang ia layani sebagai anak rohani (1 Tes. 2:11-12).
  3. Dalam hubungan dengan murid-murid-Nya, Paulus juga membangun hubungan antara bapa rohani dan anak rohani (1 Tim. 1:2; Tit. 1:4).
  4. Tuhan Yesus
  5. Tuhan Yesus memanggil murid-murid-Nya sebagai anak sekalipun ada yang usianya lebih tua dari Tuhan Yesus (Yoh. 21:5)

Isi

  1. Hubungan antara bapa dan anak sangat berbeda dengan hubungan antara guru dan murid secara umum. Kita bisa memiliki banyak guru dan pendidik, kita bisa belajar dari banyak orang, tetapi kita hanya mempunyai satu bapa (1 Kor. 4:15).
  2. Hubungan antara orang tua dan anak adalah hubungan yang terus-menerus yang tidak hanya terjadi dalam beberapa saat tetapi setiap saat, artinya seorang pemimpin cell tidak hanya memperhatikan anggotanya jika mereka sedang menghadapi masalah, tetapi setiap saat seperti orang tua yang terus memelihara dan merawat anak-anaknya, mengerti kebutuhan anak-anaknya, dan ia pula yang bertanggung jawab mencukupi kebutuhan mereka.
  3. Maleakhi 4:5-6 menjelaskan bahwa pada hari terakhir Allah akan mengutus Elia untuk memulihkan hubungan antara bapa dan anak, baik secara jasmani maupun secara rohani. Sekarang Allah sedang memulihkan hubungan ini di dalam keluarga dan gereja.
  4. Setiap kegerakan pasti menimbulkan gesekan. Demikian juga dalam kegerakan gereja cell. Jika kita tidak hati-hati, gesekan itu akan menyebabkan luka hati. Tetapi dengan sistem kekeluargaan, setiap masalah pasti dapat diselesaikan.
  5. Sebuah mobil diciptakan bukan untuk diparkir saja, mobil diciptakan untuk dipakai. Jadi mobil harus terus bergerak sekalipun resikonya lebih besar.
  6. Gereja Tuhan juga tidak diciptakan untuk berhenti tetapi untuk bergerak. Setiap gerakan akan menimbulkan gesekan. Tetapi hubungan kekeluargaan yang ada yaitu hubungan antara orang tua dan anak itulah yang akan terus mempersatukan gereja Tuhan. Jika ada perselisihan antara pemimpin dan anggota, maka masing-masing dapat saling memaklumi dan menerima karena pemimpin itu adalah bapa mereka sendiri dan anggota itu adalah anak-anak mereka sendiri.

Pertanyaan dan Penerapan

  1. Sebutkanlah tiga contoh sikap seorang bapa yang baik! Diskusikanlah!
  2. Sebutkanlah tiga contoh sikap seorang anak yang baik! Diskusikanlah!

Pertemuan 5

Godaan Sex di Akhir Zaman

(Kej. 39:7-16 – Kisah Yusuf Digoda Isteri Potifar; Hakim-hakim 16:4-20 Kisah Simson dan Delila)

Pendahuluan

            Melawan godaan seksual merupakan pertarungan yang tidak mudah. Banyak orang kalah dalam kehidupan seksual mereka, bahkan di antara orang-orang yang telah melayani Tuhan sekalipun seperti Simson (Hak. 16:4-20). Namun kita dapat menang dari godaan seksual seperti Yusuf (Kej. 39:7-16).

Isi

Karena Yusuf menang melawan godaan seksual, maka ia dapat menjadi tokoh panutan di bidang ini. Dia memiliki semua alasan dan kesempatan untuk berzinah dengan istri Potifar: hidup jauh dari keluarganya, sangat muda, berpenampilan menarik, setiap hari digoda, rumah dalam keadaan sepi, yang mengajak adalah majikannya (Kej. 39). Dia tetap menolak ajakan istri tuannya (ayat 8-9).

Untuk mengalahkan godaan seksual ada beberapa hal yang dapat kita lakukan:

  1. Milikilah pandangan yang benar tentang seks.

Yusuf dapat menampik ajakan istri Potifar karena ia mengetahui perzinahan adalah dosa yang serius di mata TUHAN (Kej. 39:9b).

  • Yakinilah kemenangan atas dosa melalui karya Kristus. Pergumulan melawan dosa sebaiknya diletakkan pada perspetif yang lebih luas, yaitu kemenangan Kristus atas dosa melalui kematian dan kebangkitan-Nya. Peperangan sudah dimenangkan secara mutlak oleh Kristus. Orang-orang Kristen hanya perlu menuntaskan pertempuran-pertempuran yang masih berlangsung. The war has been won, the battles are still going on. Poin ini sangat ditekankan oleh Paulus di Roma 6:6, 14.
  • Mendekatlah kepada Tuhan. Kunci kemenangan Yusuf tidak terletak pada apa yang ia lakukan, melainkan pada apa yang Allah lakukan bagi dia. Berkali-kali di Kejadian 39 dicatat bahwa TUHAN menyertai Yusuf (ayat 2, 3, 5, 21, 23). Prinsip yang sama berlaku atas setiap orang percaya. Relasi yang intim dengan Tuhan merupakan rahasia kemenangan atas Iblis (Yak. 4:7-8a). Tuhan Yesus memerintahkan murid-murid-Nya untuk berdoa dan berjaga-jaga supaya mereka tidak jatuh ke dalam pencobaan (Mat. 26:41).
  • Pikirkanlah hal-hal yang memuliakan Tuhan. Arena pertarungan seksual terletak di pikiran. Pandangan yang tidak pantas tertancap dalam pikiran yang najis. Bahkan tanpa rangsangan dari penglihatan pun, pikiran manusia seringkali berfantasi secara liar tanpa terkendali. Untuk mengalahkan ini diperlukan disiplin diri yang kuat dalam bentuk “menawan segala pikiran dan menaklukkan kepada Kristus” (2 Kor. 10:5b). Isilah pikiran dengan semua yang benar, mulia, dan suci, (Fil. 4:8) dengan merenungkan firman TUHAN setiap hari (Mzm. 1:1-3).
  • Hindarilah setiap sumber godaan. Pada saat istri Potifar memegang jubah Yusuf dan merayunya untuk berzinah, Yusuf tidak hanya berdiam diri sambil menantikan pertolongan TUHAN. Ia bukan hanya menyatakan bahwa perzinahan itu sebuah dosa. Yang ia lakukan adalah “meninggalkan bajunya di tangan perempuan itu dan lari ke luar” (Kej. 39:12b). Dengan kata lain, ia segera meninggalkan sumber godaan.

Paulus berkali-kali menegaskan poin yang sama. Dosa seksual maupun nafsu orang muda harus dijauhi (1 Kor. 6:18; 2 Tim. 2:22). Dalam bahasa asli Alkitab, “menjauhi” di sini artinya “melarikan diri”. Situs internet yang menawarkan pornografi, pergaulan yang buruk, tempat yang sepi, dan berbagai sumber godaan lain harus segera ditinggalkan. Tidak mengakses internet di kamar adalah strategi yang baik untuk menghindari pornografi. Usahakan penggunaan internet hanya dilakukan di tempat yang terbuka.

Di samping itu, beberapa aktivitas positif juga dapat dilakukan sebagai salah satu cara menghindari godaan. Banyak berolah raga bukan hanya menghindarkan diri dari pikiran berdosa, melainkan juga memberikan istirahat dan kesegaran bagi tubuh dan pikiran.

  • Carilah rekan atau pembimbing yang tepat. Dalam kedaulatan-Nya Allah sudah menetapkan bahwa pertumbuhan rohani adalah produk komunitas. Orang Kristen bukanlah pejuang semata wayang. Alkitab mengajarkan bahwa berdua lebih baik daripada seorang diri, karena dapat menyediakan pertolongan dan bantuan (Pkh. 4:12). Komunitas yang baik dapat menyediakan nasihat dan dorongan (Ibrani 10:24-25).

Dalam memerangi godaan seksual, seseorang membutuhkan rekan atau pembimbing. Pada saat ia lelah dan kalah, orang lain dapat menguatkan dan menasihati. Orang lain juga bisa mendoakan dan memantau progres pergumulan. Jika yang menjadi rekan atau pembimbing pernah menghadapi godaan serupa namun berhasil mengalahkannya, hal ini akan semakin baik.

Pertanyaan dan Penerapan

  1. Jika Anda masih bergumul hebat terhadap godaan seksual, sebaiknya Anda berkomunikasi dengan pemimpin cell Anda dan meminta bimbingan pribadi. Jika pemimpin cell merasa tidak mampu membimbing sebaiknya pemimpin cell merekomendasikan anggota cellnya untuk dibimbing oleh pembimbing yang lain, yang telah menang mengatasi godaan-godaan seksual.
  2. Menurut Anda, dari 6 point di atas, manakah point-point yang masih harus diterapkan dalam kehidupan Anda secara pribadi? Diskusikanlah bersama anggota cell yang lain!

Oleh: Pdp. Dr. Ferry Simanjuntak

Check Also

Care Cell Mei

ROH KUDUS

Oleh: Pdm. N. Tonny Saputra I.Be and Stay Humble (Bersikap Tetap Rendah Hati) Matius 5:3; …