
ETIKA KOMUNIKASI TEKS DAN MEDIA SOSIAL
Kejadian 11:1-9
Amsal 18:2. “Orang bebal tidak suka kepada pengertian, hanya suka membeberkan isi hatinya.”
Kini orang makin sering berkomunikasi lewat Whatsapp, E-mail, atau alat komunikasi berbasis teks lainnya. Media komunikasi canggih ini memungkinkan kita menyampaikan pesan dengan cepat dan murah. Namun, para pakar mengingatkan: alat komunikasi berbasis teks ini sering menimbulkan miskomunikasi. Mengapa? Karena penerima pesan tidak bisa melihat ekspresi wajah maupun suara pengirim. Alhasil, pesan berupa teks sangat mudah disalahartikan dan memicu konflik.
Sudahkah Anda bijak memakai teknologi komunikasi? Saat ingin menyampaikan pesan penting atau mengungkapkan rasa marah, sedih, dan lain-lain, hindarilah pemakaian SMS atau e-mail.
3 tuntunan dasar etika komunikasi melalui media sosial:
1. Hindari mencurahkan isi hati secara panjang lebar di status atau media sosial. Jika kita memiliki masalah, sebaiknya diselesaikan empat mata, karena kemungkinan sangat besar sekali masalah Anda akan membesar dan meluas seperti bola salju liar.
2. Waspada dengan rekam jejak digital. Saat kita kehilangan kesabaran dan tergoda untuk menulis status penuh kemarahan di status Facebook, WA, atau Snapgram, jangan lupa bahwa media sosial akan merekam apa yang Anda tulis dan sembarang orang dapat menggunakannya untuk menjatuhkan Anda
3. Gunakan tanda baca dengan bijak. Kecanggihan alat komunikasi berbasis teks dan fasilitasnya memungkinkan penggunanya untuk menulis, menggarisbawahi, mencetak tebal teks yang dikirim. Jika tidak perlu, hindari penggunaan tanda seru dan emoji yang menyerang karena akan berakibat kepada kesalahpahaman
Kiranya tuntunan ini dapat menolong kita untuk berkomunikasi dengan lebih sehat.
Doa: “Roh Kudus, beri kami hikmat agar kami tidak menjadi orang bebal yang hanya gemar membeberkan isi hati tanpa pertimbangan. Amin.”
GBI Pasir Koja 39 Bandung