
GUNAKAN TELINGA
Mazmur 73:21-28
Amsal 19:11. “Akal budi membuat seseorang panjang sabar dan orang itu dipuji karena memaafkan pelanggaran.”
Suatu kali saya merasa kesal dengan suatu masalah. Saya memang jarang curhat, tetapi kali ini saya curhat dengan seorang teman. Namun apa yang terjadi, teman saya itu bukannya memberi solusi, atau minimal mendengarkan curhatan saya. Dia malah balik curhat seakan-akan dia punya masalah lebih hebat. Saat itu saya hanya berkata dalam hati, “Ini tentang saya, buka kami!” Keinginan untuk menyelesaikan suatu masalah diperlukan rasa simpati terhadap perasaan orang lain. Diperlukan telinga untuk menolong orang lain, apalagi kalau kita berada dalam sebuah konflik.
Sebelum mencoba menyelesaikan konflik, pertama-tama Anda harus mendengarkan perasaan orang lain. Paulus menasihati, “Dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga” (Filipi 2:4). Skopos – Yunani (membentuk kata teleskop dan mikroskop), yang artinya memperhatikan dengan baik! Fokuslah pada perasaan orang lain, bukan faktanya. Mulailah dengan simpati, bukan solusi.
Jangan serta merta mencoba untuk menilai orang akan apa yang mereka rasakan. Dengarkan dan biarkan mereka membongkar emosi mereka tanpa bersikap defensif. Anggukkan kepala Anda tanda Anda mengerti, meskipun Anda tidak setuju. Perasaan tidak selalu benar atau logis. Kesabaran berasal dari hikmat, dan kebijaksanaan datang dari mendengar perspektif orang lain.
Pendengaran mengatakan, “Saya menghargai pendapat Anda, saya peduli dengan hubungan kita berdua, Anda penting buat saya.” Inilah yang Yesus lakukan untuk Anda. Dia menahan kemarahan yang tidak berdasar dan kejahatan dari banyak orang untuk menyelamatkan Anda (Roma 15:3).
Doa: “Bapa di dalam nama Yesus, aku mau bersimpati terhadap orang lain. Berkati aku agar aku menjadi berkat bagi orang lain. Amin.”
GBI Pasir Koja 39 Bandung