
LEMAH LEMBUT
Yesaya 53:1-12
Matius 11:29. “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.”
Sejak saya kecil, kedua orang tua saya selalu mengajarkan untuk berkomunikasi dengan orang lain dengan lemah lembut. Lemah lembut selalu diidentikkan dengan sopan santun dan cara berbicara yang halus, dibubuhi dengan senyuman. Namun kelemahlembutan memiliki makna yang lebih dalam dari itu. Firman Tuhan mencantumkan kelemahlembutan di dalam buah Roh.
Dalam bahasa asli yang digunakan Alkitab, lemah lembut memiliki makna seperti binatang liar yang telah dijinakkan, ia tidak melakukan segala yang menjadi kehendaknya sendiri. Kelemahlembutan adalah menerima segala yang kudus dari Tuhan dan senantiasa sukacita dalam menghadapi segala situasi.
Seperti Yesus Kristus yang menerima kehendak Bapa apa adanya. Ia tidak menolak. Ia menerima kekudusan dan kehendak Bapa meskipun diperhadapkan pada salib. Yesaya menyebutkan Ia seperti domba yang dibawa ke hadapan para pencukur. Ia tidak dendam kepada orang-orang yang menghina, menyiksa, dan membunuh-Nya.
Kelemahlembutan adalah sikap tidak dendam, baik dalam perbuatan maupun dalam pikiran. Seringkali dalam benak kita, dendam adalah sikap yang ditunjukkan dalam perbuatan, membalas kejahatan dengan kejahatan. Namun, saat dalam pikiran kita muncul kekesalan, kebencian, caci maki, itu adalah dendam.
Kelemahlembutan adalah kualitas anak-anak Tuhan yang mau membayar harga mahal untuk mau belajar dan berubah. Lemah lembut bukan berarti lari dari masalah, bersikap apatis, dan tidak melawan kesalahan.
Yesus Kristus adalah pribadi yang paling lemah lembut. Ia mau agar kita belajar dari-Nya. Belajar dan berubah adalah suatu proses yang tidak instan dan ada harga yang harus dibayar. Mari memahami makna sesungguhnya dari kelemahlembutan.
Doa: “Tuhan Yesus, kami mau belajar dan meneladani-Mu agar kami menjadi seperti-Mu. Amin.”
GBI Pasir Koja 39 Bandung