
BERDAMAI
Matius 5:22-26
Matius 5:24. “…tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.”
Bagi orang Yahudi, tak ada yang lebih penting ketimbang beribadah kepada Allah. Sejak zaman Perjanjian Lama, bangsa Israel telah mempersembahkan korban sebagai cara untuk memperlihatkan sikap hormat kepada Allah. Tak ada tempat yang lebih baik dibandingkan sujud di hadapan mezbah dengan persembahan bagi Allah.
Yesus mengatakan bahwa jika di tengah-tengah ibadah Anda teringat akan sesuatu yang ada di dalam hati seseorang, hentikanlah dulu ibadah Anda dan perbaikilah hubungan itu, barulah Allah tertarik akan persembahan Anda.
Namun, kita bisa sama bersalahnya jika berusaha memuaskan Allah dengan perbuatan-perbuatan baik kita, pergi ke gereja, mengikuti studi Alkitab, menjalani hidup bermoral, sementara menolak untuk didamaikan dengan seseorang yang marah dengan kita. Pesan Yesus jelas juga ditujukan kepada kita. Ia tidak ingin kita berdamai hanya di luarnya saja, dimana kita minta maaf secara tidak tulus, “Iya deh aku mengaku salah”, atau “Saya sih mau saja berdamai dengannya, tetapi ia sendiri masih marah.”
Ia memanggil kita untuk memulihkan hubungan dengan tuntas, tidak menjadi soal siapa yang benar dan siapa yang salah, tidak menjadi soal berapa lama waktu yang dibutuhkannya. Sehingga kita dapat kembali beribadah dengan gembira, dengan hati yang bebas dari rasa bersalah atau sakit hati. Barulah persembahan kita berarti. Sebelum Anda pergi ke pelayanan ibadah, adakah seseorang dengan siapa Anda perlu didamaikan?
Doa: “Bapa di dalam nama Yesus, beri aku kekuatan untuk mampu berdamai dengan orang yang berkonflik dengan aku. Beri aku kerendahan hati dan kesabaran. Amin.”
GBI Pasir Koja 39 Bandung