MISI PALU

Shallom, puji Tuhan kami diberi kesempatan untuk pergi melayani ke Palu – Sigi – Donggala (Sulawesi Tengah) yang kita ketahui pada tanggal 28 September 2018 di guncang gempa bumi dengan kekuatan 7,4 SR yang mengakibatkan tsunami dan likuifaksi.

Hari pertama kami tiba di Palu, Pdt. Jantje Haans, Ps. Johanes Sudarmadji dan Pdt. Daniel Panji bertemu untuk mencetuskan lembaga yang berfungsi untuk mempersatukan visi misi dalam penanganan dan pemulihan korban bencana agar fokus dan tepat sasaran. Turut diundang para pendeta dan pimpinan gereja di kota Palu untuk berkumpul bersama-sama guna menyatukan visi misi tersebut dan undangan disambut dengan baik oleh gereja dari berbagai denominasi di kota Palu dengan dihadiri 50 orang. Dibentuklah “Palu Bersatu Bangkit” (PBB) dengan tujuan membantu para korban bencana merekonstruksi bangunan maupun spiritual mentalnya serta memetakan gereja-gereja yang perlu dibantu, selain itu agar koordinasi penyaluran bantuan tidak tumpang tindih. Saatnya gereja bertindak dan bersatu untuk ikut serta dalam pemulihan di kota Palu.

Hari berikutnya kami mengunjungi Gereja Kristen Maranatha Indonesia (GKMI) di Bolapapu dengan gembala sidang Pdt. Alberth Paul. Perjalanan ditempuh kurang lebih 2,5 jam. Bangunan gereja rusak parah dan bantuan masih sangat minim dikarenakan akses jalan yang belum normal dan terletak di daerah yang jauh dari kota.

Kemudian kami lanjut ke daerah Winatu, desa Lonca dusun Kangkuro Kec. Kulawi yang dihuni oleh suku Winatu dengan bahasa Uma. Daerah tersebut terletak di dataran tinggi yang warganya beragama Kristen. Mata pencaharian mereka berkebun tanaman coklat, ladang dan bertani. Gereja yang ada hanya Bala Keselamatan dan Gereja Protestan Indonesia di Donggala (GPID) dengan jumlah jiwa kurang lebih 150 KK. Pdt. Jantje Haans menyampaikan firman Tuhan untuk menguatkan iman mereka dan sebagai wujud nyata kami juga menyalurkan bantuan berupa solar panel 2 buah, mie instan, makanan ringan, pampers, alat-alat kesehatan yang dibutuhkan oleh Pustu (Puskesmas Pembantu) yang ditangani oleh seorang bidan desa. Tampak warga sangat antusias dan merasa sangat diberkati. Diperlukan Team Trauma Healing untuk membantu memulihkan kondisi psikis warga pasca trauma.

Hari terakhir kami lanjutkan ke desa Lende Tovea, Kec. Sirenja – Kab. Donggala, kurang lebih 3,5 jam perjalanan untuk mengunjungi GPID dengan gembala Ibu Christin, gereja terletak di pinggir pantai, kami memberikan bantuan, memberi semangat serta motivasi untuk tetap teguh dalam bergereja. Kondisi desa sampai saat ini belum teraliri listrik selama 40 Tahun. Dengan jumlah penduduk kurang lebih  50 – 80 jiwa, dengan mata pencaharian sebagai nelayan.

Kiranya keterlibatan GBI Pasirkoja 39 di Palu bisa memberikan dampak positif untuk pemulihan kota Palu, menjadi kekuatan dan penghiburan di tengah-tengah warga yang mengalami musibah. Banyak hal yang bisa diperbuat oleh GBI Pasirkoja 39, terutama di daerah-daerah yang terpencil dan terisolir untuk memenangkan jiwa-jiwa. Tuhan Yesus memberkati.

Oleh: Sri Pudjo Laksono

 

 

Check Also

Kesaksian Jawa Tengah

KESAKSIAN JAWA TENGAH

Oleh: Indri Haans Agnecia: Arti melayani yang Sesungguhnya untuk saya pribadi adalah Kasih yang nyata, …