ISTIRAHAT
Kisah Para Rasul 16:19-26
Mazmur 84:10. “Sebab lebih baik satu hari di pelataran-Mu dari pada seribu hari di tempat lain; lebih baik berdiri di ambang pintu rumah Allahku dari pada diam di kemah-kemah orang fasik.”
Ingatan saya kembali pada saat saya masih berada di bangku sekolah dasar. Saat itu ketika saya dan teman-teman ditanya, “Pelajaran apa yang paling menyenangkan di sekolah?” Kami pasti menjawab, “Pelajaran olahraga.” Pelajaran olahraga menjadi kesukaan karena bagi kami pelajaran itu terasa seperti jam istirahat, kami dapat keluar kelas, berlari dan bermain bersama teman-teman. Sejenak melupakan rutinitas di dalam kelas dan menikmati waktu bermain bersama.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita pun menanyakan hal yang sama kepada diri kita sendiri, “Apa yang menjadi kesenanganmu dalam menjalani hari-hari?” Tentu kita menyukai istirahat atau berlibur. Namun, kita membutuhkan istirahat yang menyegarkan roh, jiwa, bahkan tubuh kita. Kita tidak dapat menemukan hal ini pada kegiatan berlibur karena itu hanya untuk sementara waktu dan tentunya bukan jawaban untuk kesegaran roh, jiwa, dan tubuh secara keseluruhan. Istirahat ini dapat kita temukan dalam saat teduh bersama Tuhan, melalui pujian dan penyembahan kepada-Nya.
Sayangnya, seringkali orang Kristen menganggap saat teduh hanya sebagai kewajiban dan rutinitas yang harus dilakukan, sehingga saat teduh hanya menjadi beban tanpa memberikan istirahat dari padatnya rutinitas. Perlu dipahami, bahwa saat teduh adalah waktu khusus yang kita berikan untuk Tuhan dalam pujian dan penyembahan, serta mendengarkan firman-Nya. Saat teduh bukanlah kebutuhan Tuhan yang harus kita penuhi, sebaliknya, kitalah yang membutuhkan.
Dalam saat teduh, Tuhan memberikan kita kekuatan baru, hikmat dan pengertian untuk kita dapat melangkah serta mengambil keputusan setiap harinya. Ketika kita menyadari hal ini, saat teduh adalah tempat terbaik untuk beristirahat dan inilah hal yang paling menyenangkan dalam hidup.
Doa: “Terima kasih karena Engkau adalah Allah yang senantiasa bersedia untuk kami temui dalam waktu teduh kami. Amin.”
GBI Pasir Koja 39 Bandung