AKTIVITAS BELAKA
Yesaya 1:10-20
Roma 12:1. Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.
Kisah ini benar-benar terjadi dan membuat terperanjat. Di sebuah gereja, seorang penatua selesai memimpin perjamuan kudus langsung membereskan perabotan perjamuan sambil merokok. Ada juga aktivis gereja yang tidak membayar hutang. Ada banyak orang Kristen, mengalami perbedaan sikap ketika di gereja dan di rumah. Di gereja menjadi malaikat yang manis, sedangkan di luar gereja hidup tidak takut akan Allah. Mudah marah, garang, berdusta, dan tidak menghormati orang tua.
Banyak orang berpikir, bahwa ibadah di gereja pasti disukai Allah. Pada kenyataannya, banyak orang melaksanakan ibadah sebagai rutinitas belaka. Dalam kitab Yesaya, Ibadah di Yehuda berlangsung dengan baik. Korban bakaran senantiasa dilakukan oleh umat. Berbagai perayaan dan pertemuan ibadah tetap dilakukan secara meriah. Namun, Allah sama sekali tidak menyukainya. Bahkan Allah jijik dan muak melihat ibadah dan perayaan mereka. Hal itu dikarenakan ibadah mereka hanya sekadar aktivitas agama yang di dalamnya tidak ada penghayatan dan rasa hormat kepada Allah.
Ibadah yang dilakukan karena rutinitas belaka tidak akan berdampak pada kehidupan, bahkan membuat seseorang menjadi munafik. Pribadi semacam ini akan menampilkan wajah yang saleh dan baik di depan orang banyak. Sedangkan di luar tempat ibadah berubah menjadi zalim dan kejam.
Memang tidak ada alat ukur untuk menilai kesungguhan seseorang beribadah kepada Allah. Yang pasti, ibadah berkaitan dengan ketulusan hati. Hal itu akan berdampak pada pembaruan hidup seseorang di mata Allah. Muliakanlah Allah dalam setiap segi kehidupan kita.
Doa: “Bapa di sorga, ampuni aku atas segala kemunafikan yang sering aku lakukan. Ajar aku hidup berkenan kepada-Mu. Amin.”
GBI Pasir Koja 39 Bandung