LURUS HATI
Pengkhotbah 5:18
Pengkhotbah 5:18. “Lihatlah, yang kuanggap baik dan tepat ialah, kalau orang makan minum dan bersenang-senang dalam segala usaha yang dilakukan dengan jerih payah di bawah matahari selama hidup yang pendek, yang dikaruniakan Allah kepadanya, sebab itulah bahagiannya.”
Sebuah lembaga di AS pernah mengadakan survei terkait kebiasaan orang dewasa ini untuk aktif berperan atau menelusuri (baca: browsing/stalking) media sosial. Hasilnya: kebiasaan orang bermain sosial media menurunkan level kebahagiaan seseorang hingga 60%. Mengapa? Karena dengan mengakses media sosial, mereka cenderung akan mudah membandingkan hidupnya dengan apa yang orang lain miliki. Dampak lebih jauh, mereka bisa menjadi tidak setia dan tidak dapat menguasai dirinya.
Orang yang tidak setia dan tidak dapat menguasai dirinya bisa ditebak penyebab terbesarnya adalah karena ia tidak memiliki kekuatan untuk menikmati apa yang telah dikaruniakan dan ditetapkan Tuhan dalam hidupnya. Tuhan memberi kita kekuatan untuk menikmati hidup kita, bukan hidup orang lain. Orang lain mungkin memiliki kesuksesan lebih, uang lebih, teman lebih atau pekerjaan lebih baik, tetapi bila kita ditempatkan dalam hidupnya, kemungkinan besar atau bisa jadi kita juga tidak akan menikmatinya. Mengapa? Karena masing-masing kita didesain secara unik untuk menjalankan pertandingan kita sendiri.
Bila kita memiliki pemahaman ini, kita tidak akan mudah tergoda untuk membandingkan atau terus berharap kita memiliki yang orang lain punyai. Tuhan sendirilah yang menciptakan setiap kita secara khusus. Bukan karena kecelakaan yang tidak disengaja. Kehidupan yang kita punya adalah yang paling tepat. Bagian kita adalah terus setia melakukan yang terbaik. Kembangkan bakat yang kita punya, kemampuan dan asah karakter kita. Bila kita setia serta bersukacita atas apa yang kita miliki, hal ini membawa kemuliaan bagi nama Tuhan. (NK).
Doa: “Kami mau terus bersyukur atas hidup kami karena kami percaya akan kesetiaan-Mu, Tuhan. Amin.”
GBI Pasir Koja 39 Bandung