Selesai istirahat sejenak setelah menempuh perjalanan selama 20 jam, kami langsung memulai pelayanan dengan kunjungan ke rumah-rumah penduduk dusun Sedaeng. Membagi tim dalam 3 kelompok, ada 12 kepala keluarga yang kami kunjungi malam itu. Luar biasa, 2 kepala keluarga yang sebenarnya bukan jemaat gereja (masih beragama lain) tetapi melihat kami berkunjung ke tetangga mereka, mengundang kami juga untuk mampir dan minta didoakan. Medan yang kami lalui luar biasa melelahkan, karena kami harus berjalan kaki menanjak dan turun karena dusun tersebut ada di kaki gunung. Salut untuk Oma-oma EGM yang semangat tanpa lelah melayani Tuhan.
Hari kedua, dimulai pagi kami melayani kaum wanita GSJA Tosari. Tante Mella melayani firman Tuhan, saat altar call beberapa ibu maju, didoakan dan mengalami lawatan Tuhan. Sementara, team Generasi Jabez mengadakan penyuluhan dampak penyalahgunaan Narkoba di SMP dan SMA Baithani – Tosari. Billy dan Yosua memberi kesaksian bagaimana mereka pernah terjerumus, tetapi anugerah Tuhan mengubahkan hidup mereka.
Setelah makan siang bersama dengan jemaat GSJA, diadakan ibadah Sekolah Minggu yang dilayani oleh Ibu Mieke, di akhir ibadah anak-anak kami doakan dan mereka mengalami lawatan Tuhan. Setelah ibadah, kami baru tahu kalau ternyata banyak dari anak-anak yang hadir belum beragama Kristen. Doakan agar firman Tuhan yang ditabur membuahkan keselamatan bagi mereka dan keluarga mereka. Sementara itu, Generasi Jabez membuat sharing kelompok dengan pemuda-pemudi GSJA. Puji Tuhan, terjadi rekonsiliasi antara seorang pemuda dengan keluarganya. Dan anak tersebut mengambil komitmen ulang untuk sungguh-sungguh hidup di dalam Tuhan.
Malam hari diadakan ibadah di dusun Sedaeng, firman Tuhan dilayani oleh Bpk. Reinhard Siagian. Banyak jiwa baru non-Kristen yang hadir. Mereka mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan dan kehidupan mereka diubahkan.
Setelah menyempatkan melihat matahari terbit di Penanjakan, keesokan hari acara kami lanjutkan dengan memberikan pelatihan membuat kue yang dipimpin Ibu Nuniek, bagi ibu-ibu di desa Wonokriti. Lalu dilanjutkan dengan perjalanan ke Malang untuk kembali ke Bandung.
Besar harapan kami agar daerah ini bisa menjadi daerah yang tetap dilayani oleh Departemen Misi GBI Pasirkoja 39 dan mengirimkan pengerja (mahasiswa) untuk membantu pelayanan Pdt. Soemarno, hamba Tuhan yang luar biasa dedikasinya untuk melayani suku Tengger. Tuhan Yesus memberkati.
Oleh: Reinhard Siagian
GBI Pasir Koja 39 Bandung