SABAR
Ibrani 6:9-20
Ibrani 6:15. “Abraham menanti dengan sabar dan dengan demikian ia memperoleh apa yang dijanjikan kepadanya.”
Beberapa waktu yang lalu saya memperhatikan tukang yang sedang bekerja saat saya merenovasi rumah. Saat memasang glass block, di bagian ini pekerjaan terlihat sangat lamban. Sudah beberapa hari tapi satu bidang tembok yang diganti dengan glass block itu belum selesai juga.
Ternyata mereka mulai dengan membuat adonan semen, mencampur semen, pasir dan air dengan komposisi yang pas. Kemudian mereka mulai memasang satu persatu glass block dengan perlahan supaya rapi dan supaya rata satu dengan yang lain, mereka selalu mengukur dan membuat patokan. Terus seperti itu satu demi satu. Kemudian setelah terpasang semua, kembali diberi semen halus di antara sambungan satu dengan yang lain agar tampak rapi dan mulus. Setelah itu mereka mengikis sisa-sisa semen yang tercecer dan mengering di permukaan glass block, kemudian baru dicat tembok sekitarnya dan lalu dibersihkan lagi sisa catnya. Dan pada saat glass block itu selesai, saya baru bisa melihat keindahannya. Pekerjaan yang tampak lambat dan membutuhkan kesabaran tetapi dikerjakan dengan proses yang benar akhirnya menghasilkan sesuatu yang indah.
Proses pembangunan tembok ini kurang lebih menggambarkan proses kita dalam menanti janji Tuhan untuk digenapi dalam hidup kita. Untuk menuai janji Tuhan diperlukan kerjasama yang sinergis antara iman dan kesabaran. Ilustrasi dalam renungan hari ini memberi gambaran sederhana mengenai hal ini.
Iman tanpa kesabaran akan membuat kita terjebak untuk berkompromi dengan berbagai tawaran dunia, mencoba menjawab sendiri doa-doa kita lewat berbagai alternatif yang menyesatkan. Sedang kesabaran tanpa iman hanya akan membuat kita hidup tanpa makna. (NK).
Doa: “Kami mau terus menanti dengan sabar dan penuh iman, sampai janji-Mu tergenapi di dalam hidup kami. Terima kasih ya Allah. Amin.”
GBI Pasir Koja 39 Bandung