MEMAAFKAN DAN MELUPAKAN
Matius 18:15-22
Efesus 4:32. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.”
Joe sedang sekarat dan ia ingin meninggal dengan tenang. Dulu ia pernah bertengkar dengan Bill, sahabatnya, hingga bertahun-tahun tidak saling berbicara. Karena ingin memperbaiki hubungan, ia meminta Bill menjenguknya.
Ketika Bill tiba, Joe berkata bahwa ia takut bila harus pergi ke alam baka dengan membawa permusuhan di antara mereka. Karena itu, ia ingin mengakhiri pertengkaran. Ia pun menggenggam tangan Bill dan berkata, “Aku memaafkanmu. Maukah kamu juga memaafkanku?” Bill menjawab, bahwa ia mau memaafkan Joe. Tetapi saat Bill pamit dan sedang beranjak keluar dari ruangan itu, Joe berteriak, “Tetapi ingat, kalau aku sembuh, berarti kita tidak jadi berbaikan!”
Kita mungkin tersenyum saat membaca cerita di atas. Namun, kisah tersebut memberi gambaran yang sangat jelas tentang cara memperlakukan orang lain. Pengampunan yang kita berikan sering kali tidak berasal dari lubuk hati yang terdalam, tetapi mungkin hanya dilandasi rasa takut dan keuntungan diri sendiri atau karena rasa bersalah, bukan karena kasih yang tulus kepada Allah dan sesama.
Mungkin saja di mulut memaafkan, tetapi ketika timbul perselisihan yang sepele, dengan mudah kita mengungkit-ungkit kesalahan di masa lalu. Padahal yang dimaksud oleh Yesus dengan pengampunan sama sekali bukan seperti itu! (Matius 18:15-22).
Rasul Paulus menjelaskan dengan gamblang ciri-ciri pengampunan yang murni Ia berkata, bahwa kita harus saling memaafkan sebagaimana Allah telah mengampuni dosa kita (Efesus 4:32). Itu berarti kita harus mau memaafkan, dan juga melupakan.
Doa: “Kami mau benar-benar mengampuni orang yang bersalah kepada kami, karena kami mengasihi-Mu, ya Allah.”
GBI Pasir Koja 39 Bandung