TEGURAN ITU MENYADARKAN
Amsal 27:5-6
Amsal 27:6. “Seorang kawan memukul dengan maksud baik, tetapi seorang lawan mencium secara berlimpah-limpah.”
Ada sebuah pohon berbuah lebat, buahnya kuning keemasan, sangat menggiurkan! Seekor burung jalak terbang ke pohon tersebut, dengan suara keras berteriak, “Pohon yang subur, engkau terlihat indah dengan buah-buahmu.” Mendengar pujian tersebut, pohon pun berkata, “Teman, tinggallah di tubuhku sesukamu.”
Tiba-tiba datang seekor burung pelatuk, ia mematuk-matuk badan pohon itu di sana-sini. Patukan itu membuat pohon sangat kesakitan. Sambil menjerit kesakitan pohon itu berteriak marah kepada burung pelatuk. Burung pelatuk pun berkata, “Saya melihat di dalam tubuh Anda ada banyak ulat. Saya ingin mematuknya keluar. Sebab jika tidak, maka Anda akan sakit dimakan ulat itu.” Si pohon tetap marah. Ia berkata, “Omong kosong! Engkau mematukku, sengaja ingin membunuhku. Cepat pergi dari sini!” Burung pelatuk pun akhirnya terbang pergi.
Tidak berapa lama kemudian, pohon buah itu menderita sakit. Daunnya berubah kuning kemudian gugur. Dahannya juga layu, tidak berbuah lagi. Burung jalak terbang meninggalkannya. Pada saat itu burung pelatuk datang lagi. Walau bagaimana pun pohon menjerit kesakitan, dia tidak peduli. Ia terus mematuk terus sampai seluruh ulat di tubuh pohon terpatuk habis.
Beberapa waktu kemudian, pohon ini tumbuh kembali. Daun-daun hijau mulai terlihat, kemudian berbuah lagi. Dengan terharu pohon berkata, “Burung pelatuk, maafkan aku. Ternyata yang memujiku belum tentu seorang teman sejati. Ia meninggalkanku di saat aku ada masalah. Tetapi engkau yang menunjukkan kekuranganku, justru teman sejatiku. Karena engkau rela membantuku di saat aku dirundung duka.”
Terkadang dalam pemuridan kita ditegur, ditunjukkan dan disingkapkan kelemahan dan kekurangan kita. Seperti pohon yang dipatuki burung pelatuk dengan maksud baik, hendaklah dengan rendah hati kita menerima kritik yang membangun dengan tujuan untuk kebaikan kita.
Doa: “Beri kami kerendahan hati, ya Roh Kudus, untuk kami menerima kritik yang membangun hidup kami. Amin.”
GBI Pasir Koja 39 Bandung