Saya mengucap syukur dan terimakasih kepada GBI Pasirkoja 39 Bandung yang kembali memberi ruang berbagi kesaksian dari pelayanan saya di Papua, serta artikel renungan bulanan yang saya terima setiap bulan menginspirasi dan memotivasi dalam pelayanan melalui bacaan Alkitab dan renungan harian, kiranya di tahun 2017 ini semakin inovatif dan menjadi berkat melalui artikel-artikel 39news.
Saya menyadari, bahwa jika bukan karena kasih dan anugrah Tuhan Yesus saya tidak mungkin berada di Tanah Cendrawasih Papua selama 8 tahun dan masih melayani sampai sekarang. Beberapa orang bertanya bahkan kerabat saya berkata, “Saul, melayani di Papua sampai kapan?” Saya hanya tersenyum dan menjawab saya juga tidak tahu sampai kapan! Sampai Tuhan gerakkan kami untuk melayani tempat lain, sebab Papua masih membutuhkan Injil Tuhan, sekalipun Papua adalah tanah Injil, namun Injil harus berbuah lebat di Papua.
Pada bulan Oktober – November 2015 lalu IMTC (Integrated Mission Training Center) di Desa Kehiran 2 mengadakan suatu trobosan baru bekerjasama dengan PPMT (Pusat Pelatihan Misi Terpadu) dari 6 sinode interdenominasi yaitu: GIA (Gereja Isa Almasih), GKK (Gereja Kristus Ketapang), GTI (Gereja Tionghoa Indonesia), Gereja Kalam Kudus, GKI Pasundan dan GIDI (Gereja Injili di Papua). Terbentuknya PPMT (Pusat Pelatihan Misi Terpadu) sebagai kepedulian gereja-gereja untuk membangun jiwa-jiwa di tanah Papua. Untuk melengkapi hamba-hamba Tuhan, penginjil-penginjil dalam melayani dan keterampilan membuat pupuk organic, pertanian, perikanan, dan bidang lain yangg membekali hamba-hamba Tuhan di pedalaman, agar dapat tetap setia melayani. Juga keterampilan lain guna mencukupkan diri mereka sendiri dalam ladang Tuhan. Pelatihan yang mencakup wilayah peg. Bintang, Wamena, Nabire dan Sentani dari perwakilan tiap-tiap lembaga gereja dan yayasan Penginjilan di Papua. Pelatihan berlangsung selama 40 hari dan hampir 60 peserta yang mengikutinya. Kami bersyukur karena mereka telah kembali ke kampung masing-masing dan berharap meneruskan apa yang telah mereka terima selama pembinaan.
Lalu kami kembali mengadakan pelatihan ini pada bulan Januari 2016, tetapi tiba-tiba sekelompok orang memalang lokasi tempat pelatihan kami seluas 2,8 hektar sehingga sampai sekarang tempat tersebut tidak bisa kami gunakan untuk pelatihan. Dan kami masih berdoa mencari tempat dan lokasi yang Tuhan inginkan. Hal ini tidak membuat kami dan teman-teman di Papua surut melayani, kami tetap melayani dan bergerak ke pedalaman di mana alumni-alumni MTC di Peg. Bintang tersebar. Pada Tgl.17 Oktober s/d 31 Oktober 2016 kami melakukan pelayanan dan mengumpulkan hamba-hamba Tuhan dari 12 distrik suku Ngalum dan Katengban, berkumpul di satu kampung Hangmata (GBI Pasirkoja 39 Bandung pernah melakukan misi ke kampung ini) dan puji Tuhan kampung ini sekarang sudah menjadi distrik tersendiri. pada kesempatan tersebut, kami mendorong serta mendidik generasi-generasi melalui anak-anak, sebagai pengajar dan membantu anak-anak untuk mengenal Tuhan dan aksara di pedalaman. Dari data alumni yang kami kumpulkan dari 12 distrik ada kurang lebih 845 anak-anak yang tidak bersekolah dan tidak mengenal huruf, tidak adanya guru-guru yang mengajar meskipun beberapa tempat memiliki gedung bangunan sekolah, tentu ini situasi yang memilukan. Jika Tuhan ijinkan, 845 anak ini akan kami follow up melalui pembinaan dini, alumni IMTC telah dibekali dengan peralatan gambar-gambar sederhana untuk memperkenalkan huruf, perkalian, mengenal hewan, buah dan lain-lain untuk anak di bawah umur sekolah dan yang usia sekolah yang tidak mengenal huruf. Memang yang kami lakukan masih jauh dari sempurna dan baik tetapi kami percaya melalui ini akan menolong generasi berikutnya dalam takut akan Tuhan dan pemberantasan buta aksara di pedalaman yang sulit dan keterbatasan banyak hal, itu sebabnya Injil harus berbuah di sana. Di tengah-tengah kemajuan teknologi, perluasan pengaruh media dan pengembangan pembangunan pemerintah melalui otsus (otonomi khusus) dan “penghijauan” tentu ini menjadi tantangan tersendiri di tanah Papua yang menyebabkan terjadinya perubahan budaya dan masyarakat secara besar-besaran. Ini membutuhkan doa-doa orang percaya lainnya, supaya gereja dan orang percaya di tanah Papua tetap bersatu dan teguh didalam Kristus Yesus. Melihat tantangan dan pergumulan tersebut tidak bijak rasanya beralih melayani meninggalkan pekerjaan Tuhan di Papua ke tempat lain.
Oleh: Saul Yuliono
GBI Pasir Koja 39 Bandung