50 Tahun Pernikahan Pdp. Eddy Suriadi dan Ibu Maryam

Dalam kesempatan ini, saya rindu membagikan dari lika-liku kehidupan rumah tangga kami. 50 tahun yang lalu, tepatnya Rabu, 21 Maret 1967 kami menikah. Usia saya waktu itu 25 tahun dan istri saya kala itu berumur 18 tahun. Sebuah usia yang masih muda belia.

Kami mendengar banyak desas desus yang kurang baik kala itu. “Kuat berapa lama ya pernikahannya?” “Waduh anak gadis ini kok bisa ya mau menikah dengan si Eddy bengal?” Rata-rata itu perkataan yang diucapkan orang tentang saya dan istri waktu itu.

Memang kondisi saya saat itu belum bekerja dan mau tidak mau kami tinggal di rumah orang tua saya. Bukan sebuah rahasia lagi kalau hubungan mertua perempuan dan menantu perempuan kerap ada selisih paham. Itupun terjadi antara mama dan istri saya. Sebuah dilema bagi saya. Puji Tuhan, setelah satu tahun, saya mendapat pekerjaan sebagai supir 4848 di Cirebon dan pindah ke sana.  Kami mengontrak sebuah rumah petak dengan sebuah kamar yang kecil dan dapur yang kecil.

Tahun demi tahun banyak tantangan dan rintangan yang kami alami dalam rumah tangga . Di usia pernikahan 10-15 tahun, itulah puncak dimana pernikahan kami mengalami goncangan dan  godaan yang hebat. Saat itu saya angkat tangan dan berpikir, bahwa bahtera pernikahan saya pastilah karam dan berantakan. Tetapi Tuhan Yesus sungguhlah sangat baik. Saat saya angkat tangan, saat itu pula Tuhan turun tangan. Tuhan Yesus menjamah istri saya dan memberikan hikmat-Nya. Meskipun dengan bercucuran air mata, istri saya mampu tetap mempertahankan bahtera rumah tangga kami hingga sampai ke seberang dengan tidak kekurangan sesuatu apapun. Jadi, kalau kami sekeluarga hari ini merayakan ulang tahun emas pernikahan kami, itu semua bukan karena gagah saya, yang berjasa dan dapat dianggap pahlawan adalah istri saya.

Ibu Mariam berasal dari keluarga yang broken home, dan merasakan sakitnya jauh dari orang tua dan saudara-saudara, sehingga ia bertekad di dalam hatinya, untuk tidak membiarkan anak-anak kami mengalami hal yang ia alami. Ketika rumah tangga hampir karam, ia mengaku ingat akan tekad itu. Itu anugerah Tuhan yang membuatnya mampu tabah dan kuat.

Kami juga pernah mengalami masalah keuangan, tetapi puji Tuhan kami melihat Tuhan memelihara kami. Sungguh Ia,  Allah yang menggenapi janji-Nya, bahwa anak cucu orang benar tidak akan meminta-minta. Pernikahan kami dikaruniai 5 orang anak, 5 orang menantu dan akan memiliki 8 orang cucu (menantu saya Echa kini sedang mengandung cucu saya yang ke-8). Kini saya melihat kehidupan anak-anak dan cucu-cucu saya tidak kekurangan, Tuhan mencukupkan semuanya.

Eben-Haezer, sampai sekarang ini Tuhan telah menolong kita….Haleluya!

 

Yoyo Muliono (Anak Tertua)

Sejak saya kecil, saya melihat rumah tangga orangtua saya memang tidak selalu mulus. Keduanya memiliki karakter yang berbeda. Ayah saya tegas dan ibu saya banyak mengalah dan diam. Ayah saya hingga saat ini sangat rajin berdoa. Setiap pagi ia senantiasa mendoakan kami semua, anak-anak, menantu dan cucu-cucunya. Sebagai sosok orang tua, mereka tidak sungkan-sungkan untuk menegur dan menasihati jika ada di antara kami yang salah. Hingga saat ini, jika ada di antara kami yang tidak kebaktian, maka pasti beliau akan menasihati kami.

Alfine Prasetya (Cucu)

Opa adalah seorang yang disiplin dan keras tetapi bagus bagi kami. Oma adalah seorang yang sangat perhatian. Sampai sekarang saya masih dimasakin dibawakan bekal untuk saya bawa ke kampus. Saya melihat peran istri masih dijalankan oleh Oma sampai sekarang, meskipun mereka sudah berumur. Saya melihat mereka pasangan yang romantis dan itu menjadi teladan bagi saya. Saya berdoa agar mereka dapat terus seperti ini, dimana mereka menjadi contoh yang baik bagi kami semua dan tetap sehat dan berumur panjang.

Maria Fransisca (Menantu)

Sebagai menantu, harapan saya adalah agar mereka dapat menikmati masa tua mereka dengan banyak jalan-jalan berdua dan sering-sering kumpul dengan keluarga besar. Semoga kami tidak menjadi beban pikiran bagi keduanya. Doa saya agar kiranya mereka selalu sehat, rukun dan tetap terus menjadi teladan bagi kami semua. Saya juga berharap agar pembaca buletin ini bisa dapat diberi umur panjang dan mencapai usia pernikahan sampai ke-50 tahun seperti mertua saya. Amin.

Oleh: Bhernadethe Siregar

Check Also

kesaksian

MAMA SHELLA

Kesaksian kali ini datang dari seorang ibu yang akrab dipanggil dengan Mama Shella, karena bagi …