Angka kejadian kanker 20% lebih tinggi pada pria dibanding wanita. Tingkat kesembuhan pun rendah karena gejala awalnya sering tidak terdeteksi, karena gejalanya tidak dikenali atau alat pendeteksinya (marker) belum ada sehingga diagnosis dan pengobatannya terlambat. Angka harapan hidupnya pun menjadi kecil. Berikut lima jenis kanker yang paling sering diderita pria dan sulit dideteksi:
- Kanker paru
Meski kanker prostat lebih banyak diderita pria, namun kanker paru adalah pembunuh nomor satu pada pria. Hanya 16% kasus kanker paru yang dapat didiagnosis pada stadium awal. Sel-sel kanker akan menyebar dengan agresif. Angka harapan hidup dalam 5 tahun hanya 4%. Pada tahun 2012, di Indonesia terdapat 25.322 kasus kanker paru-paru yang menimpa pria dan 9.374 kasus yang menimpa wanita (menunjukkan bahwa kanker paru merupakan kasus kanker terbanyak pada laki-laki, dan nomor empat terbanyak pada wanita). Angka kejadian kanker paru cukup rendah pada usia di bawah 40 tahun, dan semakin meningkat hingga usia 70 tahun.
Kanker paru seringkali disadari saat sudah di stadium akhir. Banyak kejadian kanker paru terdeteksi secara kebetulan saat dilakukan pemeriksaan Rontgen dada. Terjadi bukan hanya pada perokok aktif, namun terjadi juga pada perokok pasif, polusi juga merupakan penyebab lainnya. “Paru-paru berisi udara, sehingga bisa saja ada pertumbuhan tumor di organ ini tanpa kita sadari,” kata David Rose Camidge, Ph.D, profesor onkologi dan peneliti kanker paru dari Universitas Colorado, Amerika Serikat. Gejala kanker paru antara lain batuk terus-menerus dalam jangka waktu yang lama, dahak berdarah, sesak napas, dan berat badan turun tanpa sebab.
- Kanker kolorektal
Kanker kolorektal (kanker di usus besar dan atau rektum/anus). Penyakit ini dulu lebih banyak diderita orang berusia di atas 50 tahun, namun saat ini banyak terjadi pada orang yang lebih muda, disebabkan pengaruh gaya hidup, seperti kurang olahraga, kurang asupan makanan berserat, konsumsi minuman keras, kelebihan berat badan (overweight), obesitas dan merokok.
Sulit dideteksi karena gejalanya tidak khas. Bisa saja gejala itu merupakan gangguan pencernaan biasa, misalnya kram perut, buang air besar tidak tuntas, ada darah di kotoran, atau sering sembelit dan diare atau kotoran berbentuk butiran-butiran seperti kotoran kambing. Sangat penting untuk melakukan pemeriksaan kolonoskopi (teropong usus besar) secara berkala karena pertumbuhan tumor pra-kanker bisa dioperasi sebelum berkembang menjadi kanker.
- Kanker pankreas
Meski kasus kanker ini hanya 3% dari keseluruhan tipe kanker, namun angka kematiannya tinggi. Penyakit ini sulit dideteksi karena tidak ada alatnya dan gejalanya baru muncul saat kanker sudah menyebar.
Struktur organ pencernaan yang berupa tabung dan berlapis-lapis menyebabkan kanker di bagian pankreas sulit dideteksi.
Gejala kanker pankreas tidak khas, misalnya saja nyeri perut atau punggung, berat badan turun, nafsu makan hilang, atau mual-mual. Jika gejala ini muncul, biasanya kanker sudah menyebar ke organ hati, menyebabkan kulit dan mata kekuningan.
- Kanker melanoma
Ini merupakan salah satu tipe kanker kulit. Angka kematian kanker ini pada pria lebih tinggi, kemungkinan karena sistem imunnya berbeda dengan wanita.
Walau terdapat di kulit, namun mata kita sering sulit membedakan bintik biasa (tahi lalat) dengan bintik berbahaya. Sebagian melanoma juga tidak memiliki warna, walau ada juga yang berwarna merah dan cokelat. Kebanyakan orang mengira melanoma sebagai tahi lalat biasa, jerawat batu, kutil, atau bahkan dianggap bukan apa-apa.
Mengabaikan gejala melanoma sangat berbahaya, karena setelah dioperasi dan diangkat, kankernya bisa kembali dan menyebar ke organ tubuh lain, seperti hati, paru, bahkan otak.
- Kanker Hati
Organ hati berada di bagian dalam perut yang ditutupi oleh tulang rusuk di sebelah kanan sehingga kelainan pada organ ini sulit dikenali. Gejala-gejala penyakitnya juga baru timbul setelah kanker menyebar. Banyak orang yang baru merasakan gejala secara jelas setelah kanker mencapai stadium lanjut. Gejala kanker hati meliputi: kelelahan, penurunan berat badan tanpa sebab, mual – muntah dan sakit kuning (kulit dan bagian putih mata yang menguning akibat meningkatnya kadar bilirubin dalam tubuh manusia).
Yang bisa kita lakukan untuk mencegah penyakit ini adalah dengan mengetahui faktor risikonya: pernah menderita Hepatitis B dan atau C, konsumsi minuman beralkohol dan obesitas. Kanker ini dapat merupakan akibat dari penyakit hepatitis (peradangan pada organ hati – tersering disebabkan oleh Hepatitis B dan C) dan kondisi sirosis (jaringan hati normal digantikan oleh jaringan parut). Itu sebabnya, lakukan pemeriksaan darah untuk mengetahui ada tidaknya virus hepatitis B atau C (resiko pada pengguna suntikan, penerima donor darah, pengguna narkoba dengan alat suntik). Pengobatan yang dilakukan sangat efektif untuk menyingkirkan virus dari tubuh sehingga risiko terkena kanker hati juga rendah.
Oleh: dr. Zeffry
GBI Pasir Koja 39 Bandung