Iluminasi Ilahi

iluminasiIluminasi memiliki arti “penerangan”.  Ini mengacu kepada pelayanan Roh Allah dalam memberi penerangan, dengan maksud bahwa manusia dapat memahami dengan benar akan wahyu Allah itu sendiri. Allah berinisiatif dalam menyatakan diri-Nya dan penyataan Allah  itu yang disebut dengan “wahyu”, dengan kehendak, tindakan dan anugrah-Nya, Allah menyingkapkan apa yang tidak manusia ketahui dan pahami akan pribadi diri Allah, karya-Nya, dan kehendak-Nya.
Tuhan telah memberikan pewahyuan-Nya baik secara tidak langsung maupun secara langsung (Ibr.1:1,2; 2 Tim.3:16).  Dengan pewahyuan Allah terjalinlah suatu komunikasi antara Allah dan manusia, dan dengan penerangan oleh Roh Allah sendiri pewahyuan itu dapat dipahami dan dimengerti oleh manusia. Artinya, bahwa tanpa penerangan dari Roh Allah, manusia buta dan gelap akan siapa Allah dan karya-Nya. Dengan pewahyuan umum saja manusia tidak cukup mengenal Allah, bahkan dengan pewahyuan khusus pun banyak orang masih tidak menerima dan mengerti kebenaran ketuhanan dan kemanusiaan Yesus, Allah yang berinkarnasi menjadi manusia itu.
Kitab suci bukan berasal dari ide, dan pemikiran manusia  tapi  inspirasi Roh Allah kepada para nabi (2 Pet.1:21, “Sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah). Oleh sebab itu, tanpa  intervensi Roh Allah, maka kita tidak akan memahami rahasia, janji, dan kebenaran Allah dengan pengertian yang benar (Kol.2:2,3).
Allah memperingatkan umat-Nya dalam Hosea.4:6 “Umat-Ku binasa karena tidak mengenal Allah..” Kata mengenal dapat diartikan dengan (mengetahui, memahami) seringkali juga diartikan dengan mengerti. Artinya bahwa kita perlu mengerti dan paham/memahami akan penyataan Allah melalui Kitab Suci dan rahasia-rahasia Injil  bagi kehidupan ini. Beberapa ayat Alkitab mengingatkan, agar kita mengalami pertumbuhan pengenalan akan Tuhan dan hal itu tidak bisa didapat secara instan dan cepat, melainkan memerlukan proses (2 Pet.3:18). Bangsa Israel dalam waktu 40 tahun di padang gurun, tetap gagal untuk memahami dan mengenal dengan benar TUHAN yang hidup (Ul.1:31-33, Kis.13:18).
Untuk percaya akan keselamatan kadang tidak membutuhkan waktu yang lama, tetapi untuk memahami dan mengenal Allah membutuhkan seumur hidup kita, artinya kita tidak dapat mengenal Tuhan dengan waktu satu detik, satu jam, satu hari, atau satu  bulan, artinya memerlukan proses. Pengenalan kepada Tuhan seharusnya semakin ke atas mencapai kesempurnaan di dalam Kristus Yesus (Mat.5:48  Kol.1:28, Yak.1:5). Wahyu Allah akan menyingkapkan siapa Tuhan dan karya-Nya, penerangan Roh Allah akan membuat kita mengerti wahyu-Nya, dan Kuasa-Nya akan memampukan kita untuk bertumbuh dalam proses Tuhan melalui ketekunan demi ketekunan.

Apa penghambat kita menerima penerangan Ilahi dalam kehidupan kita;
a.Dosa-Dosa
Segala sesuatu yang bertentangan dengan sifat dan kekudusan Tuhan adalah dosa. Dosa ini membawa manusia terpisah dari Tuhan, sehingga kita perlu ditebus, dibenarkan dan diampuni oleh Allah dan hanya Allah yang mampu melakukannya. Sekalipun demikian kita masih berpeluang untuk berbuat dosa. Untuk mengalami penerangan Ilahi, maka kita harus memilih untuk terus taat dipimpin Roh Allah (Rm.8:12,13; Gal.5:16,17) dan setiap langkah pikiran, hati dan pekerjaan kita akan diterangi-Nya. Penyelesaian dosa-dosa ini menjadi awal kehidupan baru, pertumbuhan tanpa batas.
b.Keangkuhan
Yun=”alazoneia” berasal dari kata dasar “ale” artinya pembual atau penyombong. Alazoneia mengarah kepada self confidence atau percaya diri yang tidak oleh iman inilah boasting (kesombongan) karena bukan berasal dari Bapa di Sorga (1 Yoh.2:16). Keangkuhan akan menyulitkan kita menerima hal-hal baru yang Ilahi. Keangkuhan membuat kita sulit mendengar apa yang harus kita dengar, sulit melihat apa yang harus kita lihat dan lebih banyak berkata-kata tanpa kebenaran dan iman. Orang yang tidak taat tidak layak berbicara ketaatan, dan orang-orang yang congkak tidak layak berbicara kerendahan hati, demikianlah orang yang hidup duniawi tidak layak menyampaikan hal-hal rohani.  Jika ia tetap melakukannya dengan berani ia akan kehilangan otoritas dan wibawa Ilahi, kian lama ia semakin tumpul dan picik jauh dari terang Ilahi dan kebenaran itu sendiri. Kita harus selalu belajar kepada Gembala kita Yesus Kristus yang lemah lembut dan rendah hati (Mat.11:29). Keangkuhan akan membuat kita cepat menghakimi orang lain, melihat kesalahan demi kesalahan orang lain dan akan kehilangan belas kasih kepada sesama.

Pikiran duniawi dan hawa nafsu (bnd.Ef.4:17).
Pikiran duniawi adalah pola dan system pikir yang sia-sia. Inilah pikiran dalam keberdosaan. Pikiran-pikiran yang  selalu membawa dalam keinginan-keinginan yang tidak kudus dan Ilahi. Dalam terjemahan IBIS pikiran yang sia-sia dinyatakan dengan “memikirkan yang bukan-bukan”, tidak ada dasar kebenaran, penuh dengan praduga dan dugaan-dugaan yang tidak benar. Dalam kehidupan, biasanya orang ini suka menduga seseorang, menuduh tanpa bukti, mengatakan kecaman pada seseorang yang belum tentu kebenarannya. Inilah prajudaisme (berprasangka buruk) pada seseorang, teman, tetangga, rekan pelayanan, atau suami-istri bahkan dengan gereja kita sendiri atau kelompok Kristen lainnya. Kristus harus menerangi pola pikir kita yang lama, biarkan Firman Tuhan yang akan mengisi dan membentuk pola yang baru inilah lahir baru, pikiran baru tanpa membedakan ras, suku, golongan, status dll (Ef.4:24; Filp.4:18;Rm.12:2).

D. Ketumpulan Hati
Ketidak mampuan untuk memilah dan membedakan perkara-perkara benar, kudus dan Ilahi dalam hidup ini. Inilah orang bodoh oleh karena ketumpulan hati, bukan karena tidak bisa membaca dan menulis, tetapi tidak bisa membedakan dan melakukan apa yang benar (Mat.7:26). Pada sebuah radio terpasang alat penangkap gelombang frekwensi tertentu,  ia akan menyaring apa yang harus ia terima dan mengubahnya menjadi suara, sehingga telinga kita bisa mendengar dari gelombang yang tak terlihat itu, sedangkan gelombang yang lain akan dia abaikan. Bayangkan jika semua gelombang terdengar oleh kita maka alhasil adalah “kebisingan dan kekacauan.”
Hati yang tumpul perlu dibaharui oleh Tuhan, hati yang dibaharui akan mampu melihat Tuhan dalam kekudusan-Nya (Mat.5:8).
Keempat hal di atas akan akan menjatuhkan manusia dalam suatu penyembahan berhala/ilah-ilah zaman dan tipu serta manipulasi si jahat. Sebab itu mari kita bertumbuh dengan benar dalam Kristus Yesus Tuhan, dalam penerangan ilahi yang memampukan kita semakin mengenal dan bertumbuh dalam kasih karunia Kristus Yesus.

Oleh: Saul Yuliono

Check Also

Kesaksian Jawa Tengah

KESAKSIAN JAWA TENGAH

Oleh: Indri Haans Agnecia: Arti melayani yang Sesungguhnya untuk saya pribadi adalah Kasih yang nyata, …