Bronk
hitis merupakan penyakit yang cukup sering ditemui di masyarakat. Di kalangan awam dikenal dengan istilah paru-paru basah. Penyakit ini banyak diderita oleh anak-anak balita, dan sebetulnya apabila daya tahan tubuh penderitanya baik maka tidak diperlukan pengobatan. Namun demikian 10% kasus bronkhitis akut dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih serius, seperti infeksi ikutan (bakteri), radang paru, bronkhitis kronis, batuk darah.
Bronkhitis sendiri merupakan suatu iritasi/ peradangan dinding dalam pada bronkhus (percabangan tenggorokan di paru-paru). Bronkhus berbentuk suatu saluran/ pipa sehingga apabila meradang akibat iritasi, dinding dalamnya menebal, akibatnya jalan nafas menyempit. Iritasi juga merangsang diproduksinya lendir (dahak) yang kadang-kadang kental sehingga dapat menyumbat jalan nafas. Batuk merupakan reflek/ usaha tubuh untuk mengeluarkan dahak.
Gejala bronkhitis mirip dengan beberapa penyakit lain yang menyerang saluran pernafasan, seperti alergi, flu, sinusitis, asthma, pneumonia, maag, dan bahkan kanker paru-paru. Dokter akan membedakan kondisi-kondisi tersebut dengan wawancara, pemeriksaan fisik (mendengarkan suara pernafasan menggunakan stetoscope), dan apabila diperlukan untuk kasus kronis dilakukan pemeriksaan fungsi paru-paru (spirometri), dan photo rontgen. Maka dari itu penderita sebaiknya tetap diperiksa oleh dokter, terutama apabila disertai gejala-gejala sbb:
- Sesak nafas, bunyi mengi
- Batuk berdarah
- Panas badan > 38 º Celcius
- Batuk lebih dari 4 minggu
Adapun gejala dari bronkhitis diantaranya :
- Batuk 10 – 20 hari
- Berdahak (bening, kuning, hijau, dan dapat pula bercampur darah)
- Sakit tenggorokan, badan/ otot, kepala
- Pilek atau dapat pula hidung mampet
- Badan terasa lemas
- Dada terasa tertekan
- Jarang disertai demam
- Pada kasus berat, penderita dengan fungsi paru-paru yang jelek dapat mengakibatkan sesak nafas dan badan membiru (bibir, kuku)
Bronkhitis dapat digolongkan menjadi 2 jenis yakni bronkhitis akut dan bronkhitis kronis. Bronkhitis akut sering terjadi 3-4 hari setelah seseorang terserang flu, diawali dengan batuk kering yang kemudian menjadi berdahak. Biasanya berlangsung tidak lebih dari 3 minggu jika daya tahan tubuh penderita baik. Sementara bronkhitis kronis ditandai oleh batuk berdahak minimal berlangsung selama 3 bulan dalam tahun yang sama, dan terjadi dalam 2 tahun berturut-turut. Kondisi ini menyebabkan penderita rentan terhadap infeksi (mudah terkena). Bronkhitis kronis sering diderita oleh perokok berat.
Penyebab tersering bronkhitis adalah infeksi saluran pernafasan, kebanyakan kasus disebabkan oleh infeksi virus (9 dari 10 kasus). Asap rokok, polusi udara, debu, cairan pembersih beraroma yang biasa digunakan di rumah tangga (pembersih lantai/ kaca/ piring, pelembut pakaian, dll), cairan kimia.
Penderita bronkhitis biasanya diberikan obat-obatan untuk meringankan gejala seperti, obat batuk/ flu, pengencer dahak, obat sakit kepala/ sakit badan. Antibiotika atau anti virus serta anti radang diberikan apabila diperlukan. Sebaiknya penderitanya banyak minum air putih, beristirahat/ berbaring, dan menghindari pemicunya (rokok, iritan lainnya). Vaksinasi Pneumococcal dan influenza dapat mencegah komplikasi dan kematian pada kasus bronkhitis kronis.
Bronkhitis dapat dicegah dengan menghindari asap rokok, debu, hewan berbulu, dan iritan lainnya. Kenakan masker dan berperilakulah sesuai etika batuk apabila sedang batuk/ flu untuk mencegah penularan kepada orang lain. Biasakan mencuci tangan sebelum menyiapkan dan menyajikan makanan, serta sebelum makan. Apabila ada bayi atau balita sebaiknya mencuci tangan sebelum menyentuh serta menyuapi makanan/ minuman serta jangan mendinginkan makanan/ minuman dengan meniup-niup.
Etika batuk/ bersin yang dimaksud adalah sbb:
- Tutup hidung dan mulut dengan tissue/ sapu tangan/ lengan dalam baju
- Segera buang tissue yang sudah dipakai ke dalam tempat sampah
- Cuci tangan dengan sabun dan bilas dengan air bersih mengalir atau gunakan pencuci tangan berbasis alkohol (gosok selama 40-60 detik)
- Kenakan masker saat batuk/ flu.
Oleh: Imelda Variastuty, dr
GBI Pasir Koja 39 Bandung